Rabu, 23 Desember 2009

Ahmed Ibn Yusuf, Sang Ahli Matematika dari Mesir

Ahmed Ibn Yusuf yang juga dikenal sebagai Ahmed ibn Yusuf al-misri adalah seorang ilmuwan ahli matematika dari Arab. Dia sangat pandai di bidang ilmu matematika, sama seperti ayahnya yang bernama Yusuf bin Ibrahim.

Pada suatu ketika, dia pindah ke kota Kairo di Mesir tetapi tanggal dan tahun tepat dia pindah tidak pernah diketahui secara pasti. Karena kepindahannya ke Kairo, maka dia juga dikenal sebagai al-Misri, yang berarti Mesir. Sehingga sejumlah ahli sejarah menyimpulkan bahwa Ahmed ibn Yusuf mungkin pindah ke Kairo ketika dia masih usia dini atau kanak-kanak.

Selama di Kairo, dia dibesarkan di dalam lingkungan yang sangat intelektual di mana ayahnya bekerja sebagai seorang ahli di bidang Matematika, Astronomi dan Kedokteran. Ayahnya juga merupakan salah satu anggota kelompok yang memproduksi tabel astronomi yang penting bagi kehidupan masyarakat Mesir pada masa itu. Selain itu, ayahnya juga merupakan anggota dari kelompok para pelajar sehingga Ahmed memiliki lingkungan ilmiah yang sangat kuat yang mendukungnya untuk menjadi seorang ilmuwan yang hebat dan termasyhur di seluruh negeri.

Ahmed sendiri mencapai peran pentingnya di Mesir. Sebab pada masa itu, Mesir relatif independen dari kekuasaan Kalifah Abbasiyah. Pada abad ke-9 Kalifah telah memperkuat pasukan mereka dengan menggunakan orang-orang dari Turki. Para kalifah juga mulai menempatkan panglima Turki sebagai gubernur di wilayah-wilayah tertentu yang dikuasai oleh Kalifah Abbasiyah. Suatu ketika, pada tahun 868 seorang jendral Turki ditugaskan untuk memerintah Mesir, namun dia malah memilih mengirim anak tirinya Ahmad ibn Tulun untuk pergi ke Mesir dan mengambil kendali terhadap kekuasaan dan pemerintahan di wilayah Mesir. Setelah itu, Ahmad ibn Tulun segera membangun pasukannya di bawah kekuasaanhnya sendiri dan dia juga berhasil menguasai keuangan wilayah Mesir. Meskipun demikian, dia tidak pernah menyatakan kemerdekaan secara penuh dari kekuasaan Kalifah Abbasiyah saat memerintah Mesir. Kemudian, pada tahun 878 Suriah juga ikut menyatakan diri sebagai daerah otonom.

Ahmad ibn Tulun mempunyai keluarga besar yang membentuk pemerintahan di Mesir. Lalu dia mengangkat Ahmed sebagai sekretaris pribadi keluarganya. Sebab dia melihat Ahmed sebagai seorang pribadi yang baik dan memiliki kepandaian yang luar biasa. Secara khusus, Ahmed juga bekerja kepada salah satu putra dari Ahmad ibn Tulun sendiri. Pada tahun 884, Ahmad ibn Tulun menghembuskan nafas terakhirnya, tetapi keluarganya terus memerintah Mesir sampai tahun 905 ketika Kalifah Abbasiyah mengirimkan banyak pasukannnya untuk merebut kembali Mesir agar berada di bawah kekuasaan Kalifah Abbasiyah. Sebab kalifah merasa selama ini, Mesir begiru bebas mengendalikan pemerintahannya sendiri.

Sebenarnya, pada masa pemerintahan Dinasti Tulunind, Mesir mengalami kemajuan yang cukup pesat baik dalam bidang pertanian, perdagangan, industri, maupun pendidikan serta penelitian ilmiah. Kondisi yang baik ini lebih mempermudah kehidupan Ahmed sebagai seorang ilmuwan. Di Mesir kegiatan ilmiah dan penelitian sangat didukung baik oleh masyarkat setempat maupun oleh pemerintah. Sehingga Ahmed meskipun setiap hari bekerja kepada Dinasti Tulunid, dia tetap bisa mengerjakan hal-hal ilmiah yang sudah begitu melekat erat dengan kehidupannya sejak kecil terutama yang berhubungan dengan ilmu matematika.

Ahmed membuat sejumlah karya yang berhubungan dengan rasio dan proporsi. Dia membuat buku berjudul On similar arcs . Buku tersebut berisi komentar terhadap sebuah karya milik Claudius Ptolemaeus, seorang ahli matematika, astronomi, astrologi, dari Romawi. Selain itu, dia juga membuat sebuah buku tentang astrolabe, sebuah instrumen penting dalam bidang astronomi. Semua karya-karya yang dibuat oleh Ahmed, sang ilmuwan bisa bertahan selama berabad-abad dan para ahli sejarah yakin bahwa hal itu memang karya-karya Ahmed. Meskipun sejumlah karya yang lain mungkin dibuat oleh para penulis lain.

Buku On similar arcs juga diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan dipengaruhi oleh para ahli matematika terkemuka lainnya. Dalam bukunya tersebut, Ahmed membuktikan bahwa busur lingkaran serupa dapat sama dan dapat tidak sama. Bukti, seperti itu terdapat pada rasio dan proporsi.

Ahmed juga membuat metode untuk menyelesaikan masalah perpajakan yang muncul dalam buku Liber Abaci yang membahas aritmatika karya Fibonacci atau Leonardo Pisano, seorang ilmuwan ahli matematika yang berasal dari Italia. Dalam karyanya tersebut, Fibonacci memperkenalkan angka-angka Arab dan elemen utama sistem desimal kepada orang-orang Eropa. Dia mempelajari angka-angka Arab tersebut ketika dia tinggal di Afrika Utara dengan ayahnya, Guglielmo Bonaccio. Karya Ahmed berupa metode untuk menyelesaikan masalah perpajakan juga banyak dikutip oleh para ilmuwan lain di bidang matematika antara lain Bradwardine, Jordanus dan Pacioli.

Beberapa karya Ahmed, menurut wikipedia.org, ada yang tidak begitu jelas, apakah dia yang menulis karya tersebut sendirian, atau dia menulis karya tersebut bersama ayahnya yang juga ahli matematika atau bahkan mungkin itu karya ayahnya sendiri. Namun yang pasti, Ahmed menuliskan buku tentang rasio dan proporsi.

Pengaruh Euclid's Elements dalam karya Ahmed Ibn Yusuf

Buku karya Ahmed tentang rasio dan proporsi sebagian besar merupakan komentar dan pengembangan dari Book 5 of Euclid's Elements karya Euclid yang sering disebut Euclid dari Alexandria, seorang ilmuwan ahli matematika dari negara Yunani. Euclid sendiri aktif dalam menulis karya-karya tentang matematika dan pemikirannya banyak memberikan pengaruh terhadap pemikiran matematika Ahmed.

Book 5 of Euclid's Elements merupakan buku yang paling termasyhur dan merupakan salah satu karya paling berpengaruh dalam sejarah matematika terutama dalam bidang geometri hingga akhir abad 19 atau awal abad ke-20. Buku tersebut merupakan risalah matematika dan geometri yang terdiri dari 13 buku yang ditulis oleh Euclid sendiri saat dia berada di Alexandria sekitar tahun 300 SM. Buku Ini terdiri dari kumpulan definisi, postulat (aksioma), proposisi, dalil, konstruksi, dan bukti-bukti matematis dari proposisi.

Book 5 of Euclid's Elements pertama kali dicetak di Venesia pada tahun 1482. Buku tersebut juga merupakan salah satu karya matematika paling awal yang dicetak setelah ditemukannya mesin cetak dengan jumlah mencapai seribu lebih. Hal itu menunjukkan arti pentingnya buku tersebut bagi perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang matematika. Karya Eucild tersebut digunakan sebagai dasar teks-teks geometri di seluruh dunia Barat selama sekitar 2.000 tahun. Selama berabad-abad, ketika quadrivium dimasukkan dalam kurikulum semua mahasiswa, pengetahuan sebagian dari Euclid's Elements diwajibkan bagi semua siswa.

Euclid's Elements masih dianggap sebagai sebuah mahakarya dalam penerapan logika matematika. Dalam konteks sejarah, Euclid's Elements telah terbukti sangat berpengaruh dalam banyak bidang ilmu pengetahuan. Para ilmuwan besar dari barat seperti Nicolaus Copernicus, Johannes Kepler, Galileo Galilei, dan Sir Isaac Newton semua dipengaruhi oleh Euclid's Elements dan menerapkan pengetahuan mereka untuk pekerjaan mereka. Bahkan seorang ahli matematikawan dan filsuf seperti Bertrand Russell, Alfred North Whitehead, dan Baruch Spinoza, berusaha untuk menciptakan dasar "Elements" sendiri untuk masing-masing disiplin ilmu, dengan mengadopsi struktur Euclid's Elements.



1 komentar: